[jalan-jalan] Mount Kinabalu, Sabah, Malaysia
Posted by Doddy Samperuru | November 3rd 2009 | 2 Komentar
Kemarin, pas tenaga lagi kuat dan diijinkan Bos (di kantor dan di rumah), saya berhasil jalan-jalan mendaki Mount Kinabalu, yang diklaim oleh jiran Malaysia sebagai gunung tertinggi di Asia Tenggara. Kata mereka, Jayawijaya (Puncak Trikora 4750m di atas permukaan laut/dpl, puncak Grasberg 4300m dpl) terletak di pulau Papua yang tak termasuk rangkaian kepulauan Asia Tenggara, tapi lebih ke rangkaian kepulauan Polinesia & Benua Australia. Whatever awak cakap lah…
1hb Julai (bahasa Melayu yang artinya tanggal 1 bulan Juli) saya berangkat dari pulau Labuan ke Kota Kinabalu (KK), ibukota state Sabah. Naik pesawat MAS cuman 30 menit, tiketnya RM128 pp (Rp300-an ribu). Semalam di KK, esoknya jam 0615 berangkat diantar kawan ke Kinabalu National Park (KNP), sekitar 2-jam dari KK dan terletak di ketinggian 1563.8m dpl (mirip Puncak). Di situ, saya harus daftar dan bayar permit mendaki (Malaysian cuman RM15, pendatang RM100 !), harus sudah booking penginapan di Laban Rata (RM34/kamar, kalau belum booking, tidak akan diijinkan naik), harus menyewa guide (RM70) dan bayar asuransi (RM3.50). Porter juga tersedia, bayarnya RM6.40/kg berat barang. Setelah administrasi beres, para pendaki diberi kartu tanda pengenal, digantung di leher yang akan diperiksa di setiap pos pemeriksaan.

Dari kantor KNP, saya diantar memakai kereta (=mobil) ke Timpohon Gate berjarak 4.5km lewat jalan aspal mulus tapi mendaki dan sempit. Timpohon Gate (1866.4m dpl) ini menjadi titik mulai pendakian. Jam menunjukan pukul 0915, setelah lolos di check point 1, mulailah kami berdua (saya dan sang guide) mendaki. Cuaca cukup cerah, tapi sang matahari rada malu-malu kucing bersinar. Trailnya cukup lebar, rata-rata 2-3m lebarnya. Sebagian tanah lepas berumput, sebagian berbatu-batu kerikil. Hampir di setiap penanjakan, selalu tersedia tangga dari kayu. Di beberapa bagian, tersedia hand-rail dari kayu. Semuanya terkesan terawat baik. Floranya biasa, tipikal pegunungan tropis, hutan lebat tapi tidak terlalu pekat dan sinar matahari tipis sampai ke tanah.
Jam 0935 sampailah kami ke KM1, 1880m dpl, yang juga menjadi tempat rehat pertama. Ada sebuah pondok tak berdinding, bertiang besi beratap metal cladding berdiameter 4m dilengkapi dengan bangku kayu. Di sampingnya, ada sebuah tangki kotak besi dengan keran, berukuran sekitar 1m3 dan berisi air natural bersih yang bisa diminum. Beberapa pendaki mengisi penuh botolnya untuk persediaan di jalan. Rada tersembunyi di balik pepohonan, terdapat sebuah WC yang juga terawat baik. Jarak dari Timpohon Gate ke Laban Rata sekitar 6km dan terdapat enam pondok rehat semacam lengkap dengan fasilitasnya.
Kami sampai di KM2 (2267.4m dpl) pukul 1020. Pukul 1230 kami tiba di pondok KM5 (2960.8m dpl). Pepohonan sudah didominasi oleh rhododendrons yang berdaun kecil dan mirip bonsai. Angin bertiup dengan cukup kencang. Langit hanya berwarna putih, tak ada warna lain. Suhu udara mengharuskan kita sudah memakai jaket. Sehabis menyantap bekal makan siang, pukul 1245 perjalanan dilanjutkan.
Memang dari Timpohon Gate sampai KM5 jalanan mendaki, tetapi ternyata dari KM5 ke KM6 trailnya lebih terjal lagi dan non-stop. Rasanya setiap satu langkah harus berhenti menyambung nafas yang sudah terputus-putus. Trail yang dipakai adalah dry-river, artinya kalau turun hujan akan berubah menjadi sungai. Walaupun menanjak curam, tetapi susunan batu-batunya sangat membantu kita mengangkat kaki satu-persatu.
Akhirnya, pukul 1355 sampailah kami ke Laban Rata (KM6, 3272.7m dpl). Di sini ada sebuah back-packers motel dengan tempat tidur berjumlah 82 buah. Tiap kamar dilengkapi dengan heater. Walaupun kamar mandinya sharing, tetapi tersedia hot water. Motel ini dilengkapi dgn restoran lengkap dengan menu prasmanannya. Walaupun begitu, selain harganya dobel-tripel harga rata-rata, rasanya juga tak begitu memenuhi selera. Anyway, karena lapar, lelah, dan juga karena all-you-can-eat, habis juga dua piring nasi sekali makan. Satu kamar tersedia lima tempat tidur susun, sehingga total 10 tempat tidur. Sehabis mandi dengan air hangat yang sangat-sangat menyegarkan dan makan malam, sayapun tidur istirahat untuk hari esok.
2hb Julai, saya bangun pukul 0200 lalu beres-beres untuk pendakian. Pukul 0230 turun ke restoran untuk sarapan. Ternyata restorannya sudah penuh dengan para pendaki. Saya kira mungkin ada sekitar 60-70 orang pagi itu. Mayoritas pendaki berangkat awal pukul 0230, tetapi saya janjian dengan guide untuk berangkat jam 0300 saja. “Kalau kepagian, nanti kelamaan menunggu sun rise, dingin boâ€, katanya. Juga jalanan akan penuh orang dan biasanya traffic-jam (macet) karena banyak yang mogok di tengah jalan… Sambil sarapan mi instant + telor dan minum STMJ bawaan dari rumah, saya sempat nonton sebentar semifinal Euro 2004, Rep Cheko lawan Yunani.
Pukul 0300 tepat kami berangkat. Sangat bersyukur, cuaca subuh itu sangat baik; tidak hujan dan tidak berangin. Bulan purnama namun tertutup kabut tipis. Head-lamp saya nyalakan karena diluar nyaris gelap total. Begitu beranjak dari Laban Rata, trail langsung mendaki terjal, walaupun dilengkapi dengan tangga dan hand-rail kayu. Sampai di perbatasan soil tanah dan batu, tangga kayu ini menghilang dan sebagai gantinya tersedia tali nilon 1 inci. Untuk keselamatan, biasanya sang guide akan menyarankan kita untuk menggunakan tali tersebut. Untunglah, permukaan batunya tidak licin.
Sekitar pukul 0400 tibalah kami di KM7. Ada sebuah pondok dan di sini Park Ranger akan mencek para pendaki satu-persatu. Di sini juga tempat terakhir untuk mengisi air. Selanjutnya pendakian tidak begitu terjal, tetapi nonstop dan medannya sangat terbuka. Sekeliling kita semuanya terbuat dari batu granit, tak ada tanah, kayu atau pepohonan. Nun jauh di atas sana, untaian prosesi lampu senter kelihatan perlahan-lahan bergerak. Sesekali ada sejenis tikus berlari-lari di sekeliling kita mengharapkan remah-remah makanan.
Pukul 0545 akhirnya kami tiba di puncak tertinggi Mount Kinabalu: Low’s peak (4095.2m dpl, 2.72km dari Laban Rata). Di sinilah para pendaki menonton sun rise di ufuk timur, menikmati keindahan kumpulan awan mirip rangkaian kapas putih di bawah kita dan berfoto-foto sebagai bukti sudah berhasil mendaki Mount Kinabalu. Dari sini juga kita bisa melihat berbagai peak lainnya. Di sebelah utara, ada Victoria’s peak (4090m dpl). Di sisi kirinya ada Oyayubi Iwu peak (3975.8m dpl). Di sebelah barat daya ada St John’s peak (4090.7m dpl). Di sebelah timur KM8 ada Donkey Ears peak (4054m dpl), King Edward peak (4086m dpl), Mesilau peak (3801.3m dpl) dan King George peak (4062.6m dpl). Di KM 7.5 ada South peak (3921.5m dpl, gambarnya tertera di uang kertas pecahan RM1). 
Setelah foto sana foto sini, kamipun beranjak turun pukul 0630. Kalau waktu mendaki naik 2.7km memakan waktu hampir 3 jam, maka turunnya hanya memakan waktu 1.5 jam saja. Sesampai di Laban Rata, sempat istirahat sebentar, mandi pagi dan sarapan pagi. Pukul 1015 check out dan kami segera turun. Waktu naik dibutuhkan waktu hampir 5 jam, untuk turun hanya 3.5 jam saja. Pukul 1345 kami tiba di Timpohon Gate, lapor dan lalu memakai bis menuju ke park HQ.
Setelah bayar RM10, pendaki mendapat sebuah sertifikat yang mensahkan telah berhasil mencapai puncak tertinggi di Asia Tenggara. Pukul 1415 saya dan beberapa pendaki lainnya menyewa minibus pulang kembali ke KK. Pukul 1800 pesawat MAS saya terbang kembali pulang menuju Pulau Labuan, kembali ke rumah dimana istri dan anak-anak tercinta sudah menunggu.
Yang berminat melihat foto-fotonya, silahkan klik berikut:
http://www.flickr.com/photos/thesamperuru/sets/72157603707041816/
Rencananya akhir bulan Juli ini saya berminat mendaki Kinabalu kembali dan kali ini mengajak istri tercinta. Di Laban Rata ada satu kamar khusus untuk honey-moon. Yang tertarik boleh ikutan, tapi ongkos ditanggung penumpang…
Catatan Penulis: Copy & paste dari imel yg dikirim ke milis alumni M89 ITB tanggal 5 Juli 2004.
Gua pernah nyasar di kota Kinabalu selama 3 hari (Th 2005). Sebenarnya gua masih punya waktu 1 hari lagi sebelum jadwal penerbangan pulang. Tapi waktu itu gua nggak kepikiran untuk ndaki…soalnya nggak hobby kali ya. Akhirnya gua milih jalan2x di KL deh.
Gua kesana untuk ‘trouble shooting pompa Ebara yang digunakan untuk PDAM Kota Kinabalu.
Ternyata disana banyak orang Indon yang jadi pekerja di restoran dan hotel.
TKI di Malaysia memang paling banyak bekerja di Sabah. Mayoritas bekerja di industri perkayuan & perkebunan. Jumlahnya lebih banyak drpd TKI yg bekerja sbg PRT, cuman yg sering nongol di berita adalah TKI PRT. Banyak juga TKI lulusan sekolah pariwisata yg bekerja di hotel2 Malaysia. Industri pariwisata Malaysia sangat maju & mereka memerlukan tenaga kerja yg gampang tersedia, kualitas baik & cheap. Indonesia lah yg lalu menjadi suppliernya.