Perginya sahabat yang baik hati
Posted by Turnad Lenggo Ginta | March 7th 2010 | 3 Komentar
"Nad, kamu ambil doktor di tempat ku aja", begitu kira2 tantangan dari temen ku ini, Wahyudi Martono, suatu ketika dia sempat bermalam di rumah kami di Bandung. Aku waktu itu sedikit tergagap, wahhh…sesuatu yang selama ini jauh dari cita2 ku, kuliah di luar negeri!
"Yang bener Yud…emang aku mau bayar pake apa? Bea siswa darimana? sergahku saat itu. Pesimisme menjalar. Kalau dia lulusan doktor dari Tokyo Institute of Technology, aku sih ga heran. Dia termasuk lulusan tercepat di angkatan kami, Mesin ITB 89, sehingga dia pasti mudah mendapatkan bea siswa. Nah aku??
"Kamu ga usah takut Nad, tenang aja, ntar di sana, Insya Allah ada deh jalan buat bayarin sekolah kamu..percaya deh ! " Duhh…Lama aku memikirkan tantangan Yudi waktu itu,suatu tantangan yang tidak ringan untuk di jalankan.
Sampai akhirnya, aku beranikan diri juga untuk mendaftar ke kampus Yudi, IIUM. Aku isi application form nya, lengkapi persyaratan, dan aku titipkan ke dia utk di masukkan ke Centre of Postgraduate studies (CPS), IIUM. Biar dia yang urus. Begitu diterima, nekadlah aku pergi, tanpa berbekal beasiswa, selain semangat dari teman ku Yudi itu.
Hingga, sejak medio 2005, terdamparlah aku di negeri jiran. Pontang panting beresin program doktor. Kaki jadi tangan, tangan jadi kaki. Kalau ada keluhan, aku mampir ke kantor Yudi, curhatlah kira2…dan itu ga sekali dua kali, seriiingg….!! Kira-kira aku menumpahkan semua masalahku, karena gara2 dia aku bisa terdampar ga jelas gitu…Seperti biasa, dia cuma senyum, kasih joke, bercanda…ahhh…dasar…
Sampai suatu kali, utangku menumpuk di IIUM, account di block, sehingga aku tidak bisa ambil subjek. Setelah menghadap ke Finance office, sang officer bersikukuh kalo aku mesti bayar, kalo ga, ya terpaksa ga bisa ambil subjek.. Waduhh…Gawat!
Sang officer kasih jalan. "Oke lah brother, you cari orang yang bisa menjamin bahwa nanti anda bisa bayar tution fee di sini". Di kasih nya aku form untuk disini. Aku mesti cari garantor. Muter2 di kepala siapa kira2 orang yang pas. Yah, siapa lagiiii….Yudi temenku itu. Aku datangi kantornya. Di pintu depan kantornya terpampang, Assoc. Prof. Dr. Wahyudi Martono. Keren nih orang…sementara aku masih gini aja..hiks..
Kusodori form itu, minta dia tanda tangan. Tanpa banyak mikir, langsung dia tanda tangan, dan stempel. Langsung form itu aku bawa kembali ke Finance, dan urusan, CLEAR !!!!
Tibalah saat utk sidang doktor, atau yang sering di sebut Viva voce. Ajang akhir menguji thesis doktor. Hidup mati disitu. Tiga jam menghadapi sidang, lumayan berat, menghadapi penguji yang sedikit resek.
Setelah dinyatakan lulus, aku keluar pintu, dan ternyata, Yudi sudah menunggu di depan pintu. Ucapin selamat !!! Ya Allah, ini orang…..Dia bisa bisanya melepas statusnya sebagai seoarang assoc. prof di kampus, dan nungguin aku yang sedang sidang, dan bersikap sebagai sahabat. Sambil menjabat tanganku dia berkata, " Bener kan Nad, akhirnya lulus juga, selamat!" sambil tertawa lebar. Seakan lepas tanggung jawab dia, sudah membawa aku masuk ke dalam neraka program doktor.
Dua minggu lalu, surat keputusan sebagai Professor turun dari IIUM, sehingga dia berhak mendapat gelar Prof. Dr. Wahyudi Martono. Diusianya yang belum genap 40 tahun, sebuah pencapaian yang luar biasa, dari seorang putra bangsa.
Tadi pagi, sekitar pukul 3 pagi, telp berdering, Zaldi, seorang sahabat, call. Di ujung sana dia bicara, "Pak, Pak Yudi sudah meninggalkan kita". Tidak terasa telp di tutup, air mata mengalir……
Yud, selamat jalan. Terima kasih atas semua kebaikanmu selama ini. Selamat jalan sahabat. Terima kasih, sudah menjadi teladan bagi kami2 yang engkau tinggalkan.
Selamat jalan, sahabat baikku.
Kota Damansara,
7 Maret 2010, 7 PM.
Terharu gw bacanya Nad..semoga amal baik beliau di terima dan dilipatgandakan pahalanya..dan gw berdoa elo juga bisa jadi professor mengikuti jejak beliau dan meneruskan cita-cita beliau yang tertunda.
Selamat Jalan Teman…semoga amal ibadahmu diterima Allah SWT. Amiin Ya Rabbal Alamiin
saya pelajar tempatan IIUM. Sedikit paham mengenai artikel anda. Beliau adalah lecturer saya untuk subjek System Dynamics. He was unpredictable man since he is kind of serious looking man but always make jokes in the class. His class that i did not want to miss was very interesting. He wore nothing but his marker and tumbdrive to teach. Simple man with simple dress. Always look at his sandals. Thought this lecturer never care of appearence but serious about the knowledge. the thing he thought is the thing that he would test in exams and quizzes and thing that I remember till now. May Allah bless his soul. Al-Fatihah.