Menuju Tata Dunia Baru
Posted by Mochamad Safarudin | May 9th 2008 | 1 Komentar
Apakah mungkin dunia menuju suatu tatanan baru yang lebih adil, aman, damai dan sejahtera? Mungkin ini adalah suatu ungkapan klise bagi sebagian besar orang. Dengan krisis keuangan global saat ini terutama ditandai dengan kenaikan harga minyak dunia saat ini yang telah mencapai rekor baru di atas 100 dollar US per barel dan dampaknya paling terasa di negara-negara yang berkembang, kita baru tersadar bahwa selama ini telah terjadi ketidakadilan dalam pembagian kue kesejahteraan di dunia yang kita huni ini. Globalisasi dan segala atributnya yang telah dibuat oleh negara-negara maju telah berdampak pada kesejahteraan di negara-negara yang tergolong dunia ketiga. Apakah yang salah dari tata dunia yang ada sekarang ini?
Globalisasi
Globalisasi berarti bebasnya aliran modal, ide, pengetahuan, informasi, barang serta tenaga kerja tanpa batas antar negara yang menerima konsep ini. Globalisasi diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan di negara-negara yang dikategorikan dunia ketiga. Tapi pada kenyataannya globalisasi telah menaikkan angka kemiskinan di negara-negara dunia ketiga tersebut. Globalisasi menyebabkan berpindahnya kekayaan ke pribadi-pribadi yang bermodal besar. Contohnya adalah penjualan asset-aset negara ke tangan korporasi-korporasi raksasa negara-negara yang lebih maju. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa globalisasi ini harus dibenahi. Dalam laporan World Commision on the Social Dimension of Globalization disebutkan:
Proses globalisasi yang berlangsung saat ini menimbulkan ketidakseimbangan, baik antara negara maupun di dalam suatu negara. Kesejahteraan memang terjadi tapi banyak negara dan rakyat yang tidak memperoleh keuntungan dengannya. Mereka tidak dapat bersuara untuk memperbaiki proses globalisasi tersebut …… (Making Globalization Work, Joseph Stiglitz).
Globalisasi akhirnya hanya menguntungkan negara yang telah memiliki high tech industry, software developer dan education system yang lebih baik. Mereka menjajah negara dunia ketiga dengan produk baik hardware maupun software. Inilah mungkin yang dinamakan new imperialism istilah dari Bung Karno. Lihatlah cellular phone, gadgets, operating system, mobil dan lain sebagainya telah menyerbu ke segenap penjuru negeri. Tapi saat negara berkembang mau mengembangkan industri dalam negerinya seperti mobil nasional, pesawat terbang dll, negara yang telah mapan dalam industri tersebut menghalangi upaya tersebut dengan mengajukan klaim ke organisasi perdagangan dunia (WTO) atau menghalangi dengan menetapkan standar yang ketat bagi sertifikasi produk tersebut. Hal ini terjadi saat misalnya Indonesia ingin membuat mobil nasional atau pesawat terbang. Standar-standar yang dibuat lebih menguntungkan negara-negara maju. Produk buatan negara maju sangat mudah mendapatkan sertifikasi tapi produk negara berkembang dipersulit untuk mendapatkannya.
Globalisasi memang telah menolong beberapa negara dalam menaikkan produk domestik brutonya (yaitu jumlah total barang dan jasa yang dihasilkannya) tetapi hal ini tidak membantu bahkan kepada rakyat negara tersebut. Memang telah terjadi outsourcing tapi outsourcing tersebut telah memindahkan 80% pekerjaan dengan 20% penghasilan sedangkan negara maju hanya mengerjakan 20% pekerjaan dengan 80% penghasilan. Kekhawatiran yang muncul adalah globalisasi dapat menimbulkan rakyat miskin di negara kaya.
Sumber daya alam
Globalisasi menyebabkan derasnya aliran modal yang masuk suatu negara untuk mengekploitasi kekayaan alamnya. Minyak bumi, mineral, hasil hutan, hasil laut dan lain-lain dengan bebasnya dapat dieksploitasi oleh negara-negara maju atas nama perusahaan-perusahaan raksasa. Hal ini terjadi di banyak negara dan seperti Indonesia sebuah beberapa perusahaan pertambangan besar telah mengeksploitasi secara besar-besaran berbagai jenis mineral yang ada tapi rakyat di daerah tersebut tidak mendapatkan kompensasi yang sesuai dari hasil alam tersebut. Mereka bahkan banyak yang masih tidak pakai pakaian yang layak.
Sumber daya manusia
Pembangunan tidak hanya meningkatkan ekonomi tapi juga meningkatkan kehidupan warga negara tersebut. Pendidikan dan pekerjaan harus diutamakan dalam kebijakan suatu negara. Dengan investasi di bidang pendidikan, tidak hanya akan meningkatkan ekonomi tapi juga membuka wawasan bahwa kita bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Pendidikan dianggap suatu jalan keluar dari kemiskinan dengan memperoleh pekerjaan yang lebih baik apabila pendidikan lebih tinggi. Dengan pendidikan yang baik maka produktifitas juga meningkat dan pada gilirannya akan meningkatkan ekonomi suatu negara.
Pendidikan tinggi tanpa adanya jaminan pekerjaan juga tidak baik. Pemerintah suatu negara yang telah berinvestasi dalam membangun sumber daya manusia melalui pendidikan tapi tidak dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai akan kehilangan sumber daya intelektual mereka, putra-putra terbaik mereka ke negara-negara maju. Hal ini sering disebut sebagai “brain drain†suatu cara lain negara berkembang telah mensubsidi negara maju. Hal ini diungkapkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad sebagai “stealing the developing countries intellectual propertyâ€Â. Sebaliknya, negara maju menjual obat-obatan mereka dengan harga mahal, sebagai perlindungan kekayaan intelektual mereka dengan dalih untuk mengganti biaya riset dari riset yang telah gagal menghasilkan obat-obatan berguna.
Tata Dunia Baru yang lebih adil, aman, damai dan sejahtera
Marilah kita bersama-sama memikirkan dan memberi kontribusi bagi menuju tata dunia baru yang lebih adil, aman, damai dan sejahtera dan lebih banyak lagi penghuni dunia yang menikmati kue globalisasi tersebut. Hal ini dapat dimulai dari diri sendiri dengan menghasilkan produk dalam negeri, mengurangi konsumsi produk negara maju serta berkontribusi untuk kesejahteraan negeri kita.
John Lennon’s Imagine (1971):
…..
Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace…
……