Classic Disco

Posted by | August 19th 2009 | 5 Komentar

Classic Disco

Baru2 ini saya dikabari kalo acara puncak malam reuni ITB89 hebohbanget dengan acara jojing Classic Disco (“CD”) yang diiringi oleh Kelompok Suara Parahyangan (KSP), ada lagu I Will Survive lho! Wow! menyesalnya daku tidak bagian dari crowd malam itu., paling tidak karena Pertama, CD memang salah satu preferensi saya bila ditawarkan musik apa yg enak buat ngumpul dengan temen2 sebaya, apalagi ini dengan teman2 ITB89, pasti seru banget. Kedua, KSP adalah ikon CD di pertengahan 90 bersama grup band Paragita yg juga asal Bandung. Adalah kafe Pasir Putih di bilangan Kemang yang melambungkan kedua grup tersebut sebagai spesialis pemain lagu2 CD, mereka main hari Jumat atau Sabtu, kadang tukeran. Sebenarnya yang saya tahu dari awal KSP adalah lebih beraliran pop-jazzy dan Top 40, tapi ya mo gimana lagi pasar menginginkan KSP bermain retro.

Berikut hasil pengamatan saya sejak mulai memerhatikan genre CD circa 1995. Kalo diinget2 lagi sebenarnya lagu2 CD bukan lagu2 yang sedang in di jaman kita (angkatan  89) remaja. Artinya lagu2 yang menjadi ikon CD umumnya jauh sebelum kita masuk usia remaja sekitar rentang tahun 84 – 93. Sebut saja I will Survice-nya Gloria Gaynor (1979), You To Me Are Everything-nya Real Thing (1976), Heaven Must Have an Angel nya Tavares (1976). Jaman tahun segitu mereka sebut jaman musik Disco. Gak heran kalo banyak pula lagu yang bertemakan kagilaan anak muda dengan musik disco seperti lagu Night Fever-nya BeeGees (1977) malah di Asia keluar lagu Disco Fever-nya VST&Co asal Filipina dengan ciri vokal keroyokan ala band Swara Maharddika. Saking kuatnya roh lagu2 itu, lagu-lagu tersebut dirilis ulang dengan versi remix antara tahun 1981 hingga 1983. Saat itulah banyak orang seangkatan kita mengenal lagu2 tersebut.

Mengapa mereka begitu melekat di jiwa kita?

1.      Mesti diakui lagu2 tersebut memang enak dan awet. Persis kalo kita tanya generasi orang tua kita, ya lagu yang mereka bilang sweet memory gak lepas dari lagu-lagu Andi William, Connie Francis yang masuk kelas Evergreen kalo kita ke toko kaset/CD. Masih ingat acara Berpacu Dalam Melodi hingga Tembang Kenangan. Mereka para penggemar acara dan pelaku adalah orang yang 15-25 tahun lalu dikategorikan ke dalam generasi puncak dan masih punya energi untuk kumpul. Yang satu direktur anu, yang satunya lagi tokoh pengusaha muda anu, yang ono istrinya pejabat anu.

Yah begitu pula sepertinya kita sekarang mungkin dianggap oleh remaja2 usia 17 tahunan masuk generasi 40an, kita udah masuk ke dalam generasi the eighties dimana ikon-ikon jaman tersebut sering dibilang istilah JADUL.

2.      Banyak dari kita terpengaruh oleh kakak, sepupu atau orang yang lebih tua di sekitar pergaulan kita. Jaman kita masih kecil sudah terpapar dengan warna musik mereka seperti dari album/film Saturday Night Fever, Grease, termasuk produk lokal seperti karya Guruh dan Swara Maharddika nya, masih ingat lagu Damai. Namanya tinggal serumah ya tape-recorder dan kaset ya dinikmati bersama-sama, apa yang trend buat kakak kita ya jadi trend buat kita juga, walaupun kita juga punya favorit yang belum tentu kakak kita suka seperti lagu2 Joan Tanamal atau Adi Bing Slamet. Jadi gak heran manakala puluhan tahun kemudian diperdengarkan kembali lagu-lagu kakak kita tersebut kita akan mudah tereksitasi.

3.      Kita tidak punya pilihan: TVRI untuk televisi, radio Prambors tidak hanya didengar oleh segmen 17-25 tahun jaman itu, tapi menembus jauh dibawah target pendengar hingga mulai usia 10 tahun. Suatu hari saya sempat kenceng2an sama kolega kantor yang jauh lebih tua waktu dengar lagu Let’s Groove nya EWF di acara makan malam: “itu lagu jaman gue dulu!”, “lha, emang elo udah kelas berapa?”. Gak ada yang salah keduanya. Lagu itu memang ngetop sekitar 1981-82 yang saat itu kolega saya berusia sekitar 25-an dan saya sendiri masih SD, cuma sepertinya gue cukup posesif karena merasa familiar dengan lagu tersebut. Yah gimana lagi, di tahun tsb kita sama-sama dengar lagu dari radio Prambors dan sama-sama beli kaset kompilasi di Aquarius Aldiron.

Dengan munculnya era TV swasta dan lebih banyak keluarga pasang antenna parabola sekitar paruh akhir 80an, remaja yang masuk usia SMP sejak jaman itu sudah punya banyak pilihan selera musiknya antara satu angkatan terhadap angkatan di atasnya atau di bawahnya. Program MTV bisa ditonton langsung dengan pilihan genre musik begitu variatif, nggak usah nunggu tuker2an video betamax bajakan (yg original biasanya format VHS) seperti yg terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Masa sih? Tadinya saya gak percaya, di awal tahun 2000an saya pernah jalan sama teman-teman ke Bali, rentang usia teman-teman termuda di bawah 4 tahun dan tertua 3 tahun di atas saya. Suatu malam kami beramai jalan di area sekitar Dhyanapura yang banyak pilihan jenis klubnya. Saat masuk ke tempat yang putar lagu jenis lounge dan CD kita bisa sama2 nikmati, kemudian kami pindah ke tempat yang putar lagu R&B dan hip-hop, lha beberapa teman sebaya dan lebih tua cuma bisa liat2an, kadang ikut goyang2 belagak enjoy, tapi goyangnya gak matching dengan beat lagunya he he. Sementara yang paling muda dari kami bisa joget histeris, sampe diajak pulang aja susah. Kata teman di situlah batas generasi the Eighties, Wallahu-alam.. yang jelas sejak itu saya berani klaim saya adalah bagian dari generasi the eighties.

4.      Recycle yang dahsyat. CD sering di-recycled pada jaman disco-mix antara tahun 1986 hingga awal 90-an . Bila kita ingat2 lagi hampir di semua diskotek di Jakarta seperti di Oriental-Hilton, MusicRoom-Borobudur, dan Ebony-Kuningan atau di Studio East di Bandung sering diselingi lagu CD di tengah2 lagu jaman disco-mix. He he, kesannya gua anak disko, ya nyobain sekali dua kali aja, sisanya tanya sana sini aja kok sama dengerin koleksi kaset teman.

Betapa kuatnya roh CD tidak hanya pada bangsa kita, suatu hari saya saksikan turis bule berumur sekitar 35 tahun-an (1992) request lagu Dancing Queen – ABBA (1980) ke DJ di tengah lagu2 disco mix jaman itu di Bali. Perlu diingat bahwa antara rentang 1986 – 1993 adalah eranya disco-mix yang dipopulerkan oleh lagu2 dari Rick Astley, Pet Shop Boys, Miami Sound Machine, Milli Vanillie dan jenis musik Rap.

Adalah radio KIS FM yang sedari awal konsisten memperdengar lagu jenis Adult Contemporary Hits, nah andilnya cukup besar membawa gaung genre CD di pertengahan 90an tersebut. Hingga kini di malam tertentu dia tetap putar lagu2 buat kamu the eighties.

Tetapi recycle terbesar CD justru pada saat gelombang musik techno dan house masuk menjadi trend di tanah air pada pertengahan 90an. Riak-riak besar CD terus menggema hingga sekarang di pertengahan tahun 2009, ceritanya seperti lanjutan di bawah ini:

5.      Istilah CD sendiri sebenarnya keluar sekitar pertengahan 90an dimana saat itu sedang menggilanya musik jenis techno dan house di klub dan diskotek, terutama di Jakarta. Sesuatu yang dulu akhir 70an dibilang disco sudah menjadi barang klasik, disco yang ada kemudian sudah jauh bermetamorfosa menjadi electronic music dengan beat yang lebih cepat dan repetitive, yang klasik dan tetap manis jadilah namanya Classic Disco.

Sebelum masuk ke pembahasan lahirnya CD perlu sedikit diketahui konteks bahwa saat itu tahun 94-96 ada beberapa tempat di Jakarta yang jadi pusat house music tsb seperti B1 (basement 1 di Niaga Tower sebelum kebakaran) atau di M-Club di Blok M Plaza, puncaknya sempat dibuka Bengkel Nightpark pertengahan 97 yg konon bisa nampung sampe 100 ribu orang tumplek rapet. Di tengah hingarnya klub berbasis house music, orang tetap mencari tempat alternatif salah satunya balik lagi ke genre yang dulunya disebut disco, karena bosan juga dengan house music yang monoton dengan tempo beat-nya sangat cepat tsb. Banyak orang bilang gak enak kalo ke tempat itu (house music) kalo gak “neken”, istilah orang jaman itu untuk nenggak pil ekstasi. Perlu diingat bahwa jaman itu pil ekstasi (inex, ceuceu) belum masuk ke dalam golongan NAZA. Ada cerita lucu, karena dianggap bukan narkoba kala itu banyak kita temui kedua orang tua menemani putri tersayangnya yang masih usia kuliah  tripping di dance floor…ha ha ha

Selain itu pilihan alternative juga jatuh ke live music café dan klub yang ada program CD dipake buat jam-jam starter (antara jam 9-12 malam), dimana jam segitu orang baru bubaran ngumpul di mall, masih pengen lanjut ketawa ketiwi, ngobrol masih bisa dengan sedikit teriak, liat muka temen masih jelas, sebelum ujung2nya berakhir di tempat yg mainkan house music juga.

Tempat pertama yang berani buka dengan tag CLASSIC DISCO yaitu klub Morgan (kalo gak salah kerjasama dengan KIS FM) di basement Hotel Dai-ichi Atrium sekitar akhir 96, baru kemudian ikut ramai tempat2 lain memainkan konsep serupa seperti Garasi di Gedung BEJ atau Neo Fabrice di gedung GKBI. Jaman-jaman itu kita sudah pegang duit sendiri, cara menikmati lagu CD udah berubah, yaitu dengan datang ke tempat yang putar lagu CD, dan bisa dilakukan secara regular setiap jumat malam, kalo gak tahan nunggu Jumat bisa juga Rabu malam kerena kangen ketemu party animals yang itu-itu juga. Setelah itu hampir semua klub dan diskotek di Jakarta bikin program CD untuk malam2 tertentu, termasuk klub yang berdiri setelah tahun 2000an yang mengusung trance, R&B dan hip-hop, CD masih tetap eksis. Konsep combo clubs yang dipelopori oleh Ministry of Sound juga tetap mangakomodasi CD di salah satu kompartemennya, biasanya mereka sebut classic atau vintage room. Sebenarnya konsep combo 3 in 1 sudah ada pertama di Jakarta dimulai oleh new Jamz di komplek apartemen Lippo Sudirman akhir tahun 1997, yang di dalamnya juga ada room yang memainkan musik CD.

6.      DJ Sweetener for Euphoria. Sedikit menjelaskan hubungannya kenapa CD bisa tetap eksis di tangah trend house music jaman 1995-96. Ternyata hal tersebut  tidak lepas dari peran para DJ terusan dari jaman disco-mix yang berpengalaman sukses mengangkat lagi lagu-lagu disco akhir 70an.

Love Theme nya Barry White versi remixed dengan beat lebih cepat sering diselipin di tengah crowd yang lagi pada on. Ada juga Copacabana-Barry Manilow versi remixed, atau  Shine On Silver Moon – Marilyn McCoo sering dipake buat popper di antara beat musik house. Buat para penggemar tripping jaman itu lagu-lagu tersebut diibaratkan refrain dalam sebuah lagu. Jadi ini adalah kepintaran para DJ untuk bikin efek euforia histeris para crowd ditengah bergodek-godek ria. Maklum para DJ tersebut juga alumni DJ jaman disco-mix mengulang sukses menyelipkan lagu-lagu CD ke dalam mainstream. Jelas efeknya lebih dahsyat saat jaman house music, karena kebanyakan orang di dance floor sudah terkena efek euphoria. Berbeda dengan jaman disko 80an hingga awal 90an orang yang ke dance floor memang yang niat jojing, dansa baris dan ikut sesi slow dance kalo dapet pasangan. Juga jarang ditemukan selipan2 CD pada para DJ muda yang belakangan yang umumnya jebolan sekolahan DJ yang sangat tertib di genrenya, yang main tribal gak main hip hop, yang biasa trance agak susah diajak main chill-out.

7.      Music Café dan Club sebagai anchor. Kalo mengandalkan cuma lagu CD bisa cepat bosen, di sinilah kembali kelihaian para DJ dan klub untuk mempertahankan tamu-tamu pelanggannya dengan racikan lagu2 CD yang dikombinasikan dengan lagu2 yang lebih baru yang lebih ngepop tapi udah diremixed dengan beat yang padu seperti Not The Boys Next Door nya Pater Allen, Can’t Take My Eyes Off Of You dirilis lagi lewat Boys Town Gang dengan beat lebih cepat , The Boss nya The Braxton jaman tahun 1996 yang mengulang sukses lagu Diana Ross tahun 70an jadi, adalah nomor-nomor andalan klub ZanziBar yang mengusung aliran garage dipadu dengan lagu2 terbaru dari Fatima Rainey, Sophie Ellis-Bextor, Crystal Waters dan lain-lainya biar tidak bosan. Klub yang berdiri sekitar tahun 1996 ini bisa dibilang jangkarnya orang-orang yang mau cari lagu-lagu disko lawas dengan beat yang lebih dinamis. Banyak tempat yang meniru konsep klub tersebut tetapi tidak bisa tahan lama seperti ZanziBar yang bisa bertahan ramai hingga tahun ke delapan.

Live-music café yang berdiri sejak pertengahan 90an pun seperti yang saya sebutkan di atas yang banyak memainkan lagu-lagu CD ikut menyuburkan brand awareness dari genre CD.

8.      The Power of the Eighties, Semakin banyak orang mengasosiasikan bahwa CD manjadi salah satu cermin kaum the Eighties. Iya deh terserah, siap-siap aja oleh generasi remaja kini men-stample kita ke dalam generasi sepuh yang udah mulai tertatih-tatih mengikuti trend musik terkini, persis seperti kita mencap generasi orang tua kita. Tapi buat industri event dan program acara, setidaknya kaum the Eighties sebagai genereasi kekuatan ekonomi baru adalah target market mereka untuk paling tidak untuk 10 tahun ke depan, contohnya saja acara Zona 80. Jadi siapkan energi! CD gak akan mati sampe 10 tahun ke depan, paling jeda-jeda bentar he he.

9.      Ada batasnya cohort sekitar angkatan 89 minus 3 dan plus 5 tahun, membuat labelisasi angkatan-angkatan tertentu sebagai pemilik genre CD. Pengamatan saya angkatan 89 termasuk di tengah dan menuju akhir generasi penggila CD, ada relevansinya juga dengan segmen mudanya the Eighties. Saya agak bingung kalo mesti buat formulasinya. Tapi segmen usia mereka yang membawa label “ledakan penduduk” saat lahir adalah umumnya aktif ikut breakdance jaman tahun 1985 an, coba deh diinget2, tambah bingung kan?

Berikut penjelasan apa yang membedakan di tiap cohortnya :

Cohort Fanatik : melanjutkan cerita di atas, yaitu yang berada pada segmen 8 – 16 tahun pada saat lagu2 tsb sedang in. Mereka cukup aware lagu2 tersebut memang menjadi hit, sering dengar dari putar ulang di radio Prambors atau Oz, atau request ke Rase saat mereka kuliah di Bandung. Mereka masuk ke dalam gelombang besar saat lagu2 tsb masuk ke dalam musim recycle tahun 1995 – 1997 dimana pada era tsb mereka udah pegang duit dan menikmatinya sudah mulai di kafe, klub dan diskotek. Kini, Cohort ini menjadi kelompok yang sangat kuat, tutup tempat untuk private party but ultah atau atau acara kantor putar suasana eighties menjadi hal yang sangat biasa.

Cohort Nostalgia : justru para pelaku pada saat lagu tsb sedang in, mereka berada di segmen 18 – 25 tahun. Perilaku mereka jarang yg sampe euforia kalo di klub sedang putar lagu CD tersebut, biasanya mereka lebih enjoy suasana ngobrol sama teman sebayanya. Seandainya mereka ada di kafe atau klub disko di paruh akhir 90-an, mereka biasanya pesan private room, paling gak pesan meja, buka botol dengan nilai orderan yang rata-rata jarang diikuti oleh Cohort Fanatik pada masa itu yang lebih senang standing, di bar atau pinggir stage untuk jingkrak. Cohort Nostalgia malah lebih senang jingkrak2 untuk musik jenis Classic Rock seperti Genesis, Deep Purple. Mereka jelas jenis penikmat lagu2 CD dengan caranya sendiri dan seperlunya.

Lintas Cohort : jangan heran kalo ketemu cohort Nostalgia tapi keliatan antusias spt cohort Fanatik di bawahnya. Biasanya mereka yg senang bergaul dengan yang lebih muda atau secara lingkungan pekerjaan didominasi oleh warna angkatan yang lebih muda.

Cohort Appreciative: biasanya kelompok yang mungkin jauh lebih muda dari kita tapi mereka mengakui betapa sweet nya lagu di era akhir 70 dan awal 80 tersebut. Jangan salah, mereka kadang lebih hafal lirik2 lagunya dibanding cohort fanatik karena banyak dari mereka juga pemain musik dan band yang cukup terkenal, artinya juga mau gak mau banyak di antara mereka sering di-request oleh pasar yang kebanyakan kalangan emerging wealth generation. Kelompok ini menyusun database yang sangat bagus terhadap koleksi lagu2 tsb termasuk CD. Kalo nyari lagu di koleksi Ipod-nya enak, rapi terstruktur dan cukup lengkap.

Kelompok ABG jaman sekarang: mereka suka lagu CD tapi suka agak gak peduli mengenai konteks jaman dan penyanyi. Belom lama saya putar lagu agak keras di kantor Don’t Stop till Get Enough untuk mengenang lagu2 Michael Jackson. Seorang kolega kantor fresh graduate menghampiri saya dan bilang dia senang dan punya juga lagu tersebut…terus tanya :”..Emang ini lagunya siapa?” Ooops !

 

 

5 Responses to “Classic Disco”

  1. Doddy says:

    Mantap! Dari isi artikel ini, ketauan penulisnya mantan Disco Dancer…
    Gue jadi inget di circa 1990-91, bareng BuSet kita berdua pergi ke Studio East di Cihampelas Bandung (untuk pertama kalinya). Waktu itu baru aja selesai OS HMM & kepala diikat bandana. Gue dua kali diusir petugas security karena salah satu peraturannya adalah dilarang memakai segala bentuk penutup kepala… !

  2. Muhammad Syamsul says:

    ck…ck.. salah satu next joint business m89 kayaknya bikin klub nih..

  3. aRPie says:

    Salam kenal.

    Salut untuk referensinya. Emang bener kalo yg muda masih masuk ke CD, tapi kalo kita sering ga masuk ke hip-hop, trance, atau funkot.
    Di situ keajaiban CD.

    Viva CD …

    aRPie
    http://www.classicdisco.co.cc
    http://www.facebook.com/classicdiscomix
    http://www.facebook.com/classicbeat

  4. yohanes says:

    Sip..sip..sip..hidup classic disco..
    Sekalian dibahas para dj classic disco dulu..contoh Dj Jockey Saputra..Tommy fans .. dll

  5. rendy says:

    Bravo,Rudy! Tulisan yg mengesankan, pandangan pribadi nan informatif, lengkap, namun enak dibaca! Gue gak pernah tahu kalo loe piawai juga dalam merangkai kata. Gw msh menyimpan jam tangan icon 80an, Seiko Neographic series. Kaca jamnya tergores jam tangannya JaGun pas di SE. Gw lupa persisnya, tp mungkin sebelum OS. Kita bbrp orang homeboys M89 iseng ‘turun’ di SE. Ada Yana, Eko Suhar juga, n maybe Daud. Good ole days :-)

Leave a Reply

Welcome, Visitor!

Please login below

forgot password?

Tentang Website

Website ini adalah representasi online Buku Angkatan (BukAng) Jilid 2 dari mantan mahasiswa ITB Jurusan Teknik Mesin & Teknik Penerbangan angkatan 1989. Lebih lanjut >

Subscribe for New Posts Notification


Info Rekening
Alumni Mesin 89

  • Buat Frens Mesin 89 yang bertanya nomor Rekening Mesin 89: Bank Danamon, 206.065.989 atas nama Rudy Arifin, Erwin Wijaya, dan Ali.
  • Tips: Bisa transfer lewat ATM bank yang terhubung di ATM Bersama dan ALTO.