Jihad Kebangsaan Indonesia

Posted by | October 3rd 2009 | 1 Komentar

Jihad Kebangsaan Indonesia

Pada suatu sore Mbak Liny telah mengingatkan saya untuk menulis artikel dengan tema jihad yang akan dimuat dalam majalah “Bende Mataram” edisi ke-2. Berikut adalah tulisan semacam dengan edisi perluasan.

Dan hari ini, 1 Oktober 2009, Hari Kesaktian Pancasila, sesuatu telah mengingatkan saya kembali pada artikel tersebut dan kaitannya dengan apa yang tertulis dalam paragraf ke-9 pada “ACKNOWLEDGEMENT ATLANTEAN PROBLEMS AND EXERCISING THE “FACULTY OF OBLIVION”* ON THEM”

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang berjuang membangun kembali Nusantara dan semoga dapat turut menyemangati lahirnya kembali Nusantara serta membuat Ibu Pertiwi berseri-seri :)

Terimakasih Mbak Liny :)

Jihad Kebangsaan Indonesia

Bumi nusantara ini memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa di mata dunia, bertempat di tempat yang sangat strategis di belahan dunia. Jika ditilik kebudayaannya, ternyata nusantara juga memiliki dasar budaya yang sebetulnya sangat feminin [Sukarno.Pancasila sebagai Dasar Negara.Toko Gunung Agung.2001.hal.97-101,190]. Oleh karena itu, mereka-mereka yang dilahirkan di Indonesia memiliki amanah yang luar biasa juga untuk mengembangkan nya demi kemanfaatan evolusi jiwa manusia itu sendiri. Dasar budaya nusantara yang feminin ini sangat diperlukan untuk dapat mengelola seluruh potensi bumi nusantara tersebut dengan adil. Adil, untuk kemanfaatan seluruh rakyat, untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sifat feminin tidak akan membiarkan anak-anaknya kelaparan. Sifat feminin tidak membeda-bedakan, setiap anak yang kelaparan diberikan makanan. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Namun pada saat ini praktek-praktek korupsi dianggap sesuatu hal yang lumrah (nggak di pemerintahan, swasta, tua, muda, laki, perempuan, apapun sukunya, apapun agamanya), apanya yang salah ya? Diperlukan adanya suatu kesepakatan nasional mengenai standar minimum kebutuhan hidup yang wajar dan jujur (disesuaikan dengan kondisi daerahnya) terutama untuk peran pengatur dan pembuat kebijaksanaan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak (birokrasi eksekutif, legislatif, dan yudikatif). Mereka ini adalah “gembala” rakyat. Mohon jangan tersinggung dengan istilah-istilah harfiah dalam perumpamaan berikut: Bayangkan jika dalam suatu penggembalaan domba, anjing-anjing gembalanya kelaparan. Bisa-bisa justru dombanya dimangsa anjing gembala. Dan bila sudah kebiasaan, anjing gembala pun berubah menjadi serigala. Atau jika anjing gembala dipaksakan tetap bekerja dalam kondisi lapar, lama-lama dapat juga berubah menjadi domba. Masa domba menggembala domba? (kalo anjing gembalanya nyambi jadi domba nanti malah bisa rebutan rumput ujung-ujungnya bisa adu domba). Jika didalam suatu negara kelas ksatrianya bermasalah, jelas kehidupan negaranya akan bermasalah. Dalam alam manusia, Sunnatullah Hukum Maslow masih berlaku [Hierarchy of Needs “Jenjang Kebutuhan” (dari kebutuhan dasar fisik hingga mencapai aktualisasi diri), pada saat orang telah mencapai tingkat aktualisasi diri, Maslow menggambarkan “A musician must make music, an artist must paint, a poet must write, if he is ultimately to be at peace with himself. What a man can be, he must be.” (Microsoft Encarta Encyclopedia 2004)] . Jadi paling tidak dengan gaji yang mencukupi standar minimum kebutuhan hidup yang wajar, tercipta suatu kondisi dimana mereka yang masih ‘idealis’ bisa survive di birokrasi tanpa usaha yang aneh-aneh dan mampu membina profesionalisme (integritas, kompetensi dan pendapatan yang sesuai) dalam birokrasi.

Walaupun Ibu Pertiwi sudah menyediakan kecukupan sumber daya alam kepada seluruh anak-anaknya, tetapi tetap saja tidak mencukupi untuk kerakusan anak-anaknya. Pada sisi lain memang keterikatan masyarakat kita pada materi dan uang sudah sedemikian kuatnya, ditandai dengan mental kelaparan mereka-mereka yang diharapkan sudah kenyang (misal salah satunya kebanyakan anggota partai di dewan-dewan, dan tidak hanya mereka saja). Untuk mengurangi tingkat keterikatan terhadap materi dan uang, mungkin ada gunanya bila diadakan satu hari nasional dimana aktivitas sehari-hari tetap dijalankan normal, hanya saja tanpa melibatkan sama sekali uang dan nilainya. Mungkin mirip-mirip dengan hari raya idul fitri pada jaman Nabi dimana khusus pada hari itu aktivitas perdagangan diharamkan. Itulah makanya pada hari itu ada ritual pembagian zakat fitrah. Sekedar perut tenang pun belum lah cukup, harus dilanjutkan dengan pikiran yang tenang. Perut yang tenang perlu dibekali dengan stress & relaxation management.
Setelah perutnya tenang, yang kemudian disusul pikiran yang tenang pula. Diharapkan mereka yang memerankan peran pengatur dan pembuat kebijaksanaan tersebut dapat menjalankan perannya dengan lebih baik dan benar dan mulai memiliki kecukupan energi untuk memikirkan dan menjalankan kesadaran yang lebih tinggi lagi, sesuatu yang lebih mulia, sesuatu yang lebih abadi.
Oleh karena itu dalam jangka pendek dan menengah, reformasi untuk memberdayakan mesin birokrasi mutlak harus dilakukan dalam proses reformasi Indonesia. Secanggih apapun program-program pemerintahan suatu regime, kalau mesinnya sangat terbatas keberdayaannya, ya gimana? Seperti hendak menggunakan software-software aplikasi canggih MS Office Vista, Adobe Photoshop keluaran terakhir, Facebook, Software multimedia keluaran terakhir, tetapi system operasinya masih menggunakan sistem DOS, ya boro-boro ngomongin efisien untuk efektif pun juga belum tentu.
Jika kasih feminin tidak lelah-lelahnya memberi, kebijaksanaan maskulin akan membatasi yang sudah kenyang agar tidak kekenyangan. Diperlukan kebijaksanaan untuk menyadari keadaan menjelang kenyang dan berhenti makan. Kebijaksanaan maskulin akan menghukum mereka yang mengambil terlalu banyak, demi kemaslahatan kesadaran yang lebih tinggi. Kebijaksanaan tahu kapan saatnya memberikan imbalan kapan memberikan hukuman, kapan saatnya mendengar kapan harus bicara, kapan istirahat kapan bekerja. Dimulai dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan semacam ini lah dimulainya interaksi yang sehat antar individu dalam masyarakat. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan permusyawaratan/ perwakilan.

“All things in life are materials for wisdom to work with” [Gayan, the Song of the Soul, oleh Hazrat Inayat Khan, saduran Anand Krishna, Gramedia, 2002, hal.48]. Sungguh mudah menjadi adil, tetapi sangat sulit menjadi bijak [Vadan, the Divine Symphony, oleh Hazrat Inayat Khan, saduran Anand Krishna, Gramedia, 2002, hal.104]. Kebijaksanaan perlu compassion, ketenangan dan proses pembelajaran yang terus-menerus seiring dengan bertambahnya jarak antar bintang-bintang di langit. Oleh karena itu untuk proyeksi jangka menengah dan panjang reformasi kualitas pendidikan nasional harus segera dimulai. Sifat arif dan bijaksana harus ditemukan dan dikembangkan sedini mungkin sejak kecil.
Setelah kebutuhan minimum hidup wajar terpenuhi, keterikatan pada materi dan uang dikurangi, dan dilengkapi dengan kualitas pendidikan yang baik (termasuk stress & relaxation management), diharapkan kelompok-kelompok masyarakat dapat menjalankan peran dan fungsinya masing-masing hingga ke tingkatan semangat aktualisasi diri. Mereka yang menjalankan usaha budi daya sumber alam, barang & jasa dapat menjalankan usahanya dengan semangat aktualisasi diri. Mereka yang menjalankan usaha pertukaran & pemindahan sumber alam, barang & jasa dapat menjalankan usahanya dengan semangat aktualisasi diri. Mereka yang menjalankan peran pengatur dan pembuat kebijaksanaan dapat memerankan perannya dengan semangat aktualisasi diri. Mereka yang menjalankan peran “photographer”, “feed backer” dan “cautioner” dapat memerankan perannya dengan semangat aktualisasi diri.
Ketika tingkat motivasi hidup masyarakat kita telah mencapai tingkat aktualisasi diri, maka peran dan fungsi antar kelompok masyarakat tersebut diharapkan akan saling nyambung secara alami. Misalkan dalam dunia keselamatan penerbangan. Sekelompok masyarakat berkeinginan membuat pesawat terbang, kemudian mereka membuat rancangan nya, kemudian dibuat gambar-gambar, model-model penghitungan, uji coba, test, dsb. Setelah data rancangannya dibakukan, kemudian data tersebut digunakan oleh sekelompok masyarakat yang lain untuk diproduksi, dibuat barang jadinya sesuai dengan data yang telah dibakukan tersebut. Jadi pesawatnya, kemudian ada sekelompok masyarakat lain lagi yang membeli pesawat tersebut dan menggunakannya untuk suatu bentuk usaha ekonomi. Pesawat tersebut digunakan untuk usaha angkutan orang dan barang, dan juga dirawat supaya tetap awet dalam penggunaannya. Rakyat Indonesia mengamanatkan kepada Negara Indonesia melalui UUD dan UU, bahwa Negara mempunyai tanggung-jawab untuk melindungi keselamatan rakyat yang membayar pajak dan tiket pesawat. Mulai dari sinilah peran pemerintah dimulai untuk menjamin keselamatan masyarakat banyak dalam hal penggunaan pesawat terbang. Birokrasi pemerintah membuat seperangkat peraturan-peraturan pemerintah, persyaratan-persyaratan teknis perancangan pesawat yang harus dipenuhi oleh perancang pesawat, prosedur-prosedur kendali mutu yang harus dipenuhi suatau sistem produksi, batasan-batasan dan aturan main penggunaan pesawat yang harus dipatuhi para pengguna pesawat, peraturan perawatannya dsb. Tidak hanya membuat peraturannya saja, pemerintah pun harus melakukan inspeksi fisik pada pesawatnya mulai dari proses perancangan hingga penggunaannya, surveillance (inspeksi berkala), juga melakukan audit manajemen perancangan, sistem produksi, operator penerbangan, organisasi perawatan. Pun sebegitu kompleksnya sistem sertifikasi kelaikan dalam keselamatan penggunaan pesawat, namanya buatan manusia tidak terlepas dari kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan. Sewaktu-waktu terjadi misalnya kecelakaan berat, pemerintah melakukan investigasi dengan komite nya yang independen dari kepentingan pihak pabrik, operator maupun otoriti. Komite investigasi ‘memotret’ fakta-fakta yang berkaitan dengan kecelakaan (dari tingkat fisik pesawat hingga manajemen), dibuat serangkaian proses analisa, dicari bagaimana kecelakaannya terjadi dan dicari penyebab celakanya, ditemukan ancaman keselamatannya, dan dicari solusinya dengan dibuat suatu rekomendasi keselamatan untuk mencegah kecelakaan yang sama terulang lagi dan meningkatkan tingkat keselamatan yang ada. Jika rekomendasinya menyangkut kurang memadainya suatu peraturan, ya peraturannya diperbaiki atau dilengkapi. Jika menyangkut kelemahan rancangan, ya rancangannya diperbaiki, dst.
Dalam contoh dunia keselamatan penerbangan di atas digambarkan bagaimana kelompok-kelompok masyarakat penerbangan menjalankan fungsi dan perannya dalam kerangka penjagaan dan peningkatan mutu keselamatan penerbangan. Jika hal-hal semacam ini pun dalam konteks kebangsaan terwujud dalam kelompok-kelompok masyarakatnya yang tersebut di atas, maka dengan adanya sinergi antar kelompok masyarakat ini, tersebutlah Indonesia sebagai Negara kesatuan (integrated). Persatuan Indonesia.

Ibu Pertiwi menyediakan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan juga sumber daya energi, yang kemudian diolah, didistribusikan, disusun secara teratur sebagai wujud ekspresi budi daya manusia Indonesia. Fungsi usaha budi daya, pertukaran & pemindahan sumber alam, barang & jasa akan menjadikan Indonesia sebuah sistem yang “berdikari”/ “self-sustained” & “self-propelled”. Fungsi pengatur dan pembuat kebijaksanaan akan menjadikan Indonesia sebuah sistem yang “self-driven”. Fungsi “photographer”, “feed backer” dan “cautioner” akan menjadikan Indonesia sebuah sistem yang memiliki kemampuan “self-correction & self-improvement”. Dalam Indonesia yang integrated, kumpulan komponen bangsa yang bekerja atas dasar kasih akan saling sinkron/ selaras untuk menjaga dan meningkatkan keindahan bumi nusantara. Indonesia sebagai sebuah sistem yang utuh akan membawa peradaban nusantara kita menjadi semakin luhur berevolusi menggapai keabadian. Kemanusiaan yang adil dan beradab.

4 sila-sila yang dipaparkan di atas sungguhlah luar biasa untuk memandu penciptaan masyarakat yang adil yang akan membawa kebudayaan nusantara menjadi semakin cerah. Namun begitu bagi Bung Karno itu belum sempurna, sekedar menjadi manusia yang baik saja belumlah cukup. Manusia bukanlah sekadar sekumpulan jaringan darah dan daging belaka. Evolusi jiwa manusia harus terus bergulir yang pada akhirnya akan melampaui kemanusiaan itu sendiri. Keluhuran budaya nusantara yang hendak dibangkitkan dimaksudkan tidak lain dan tidak bukan untuk membantu kelancaran proses evolusi jiwa manusia itu sendiri. Kebudayaan yang akan melarutkan jiwa manusia ke dalam Dia yang Maha Ada (Allah, Kesadaran Murni, Tao, Sang Hyang Widhi, Yahweh, God, Tuhan, Dia yang tak bernama dan membutuhkan nama pun dipanggil dengan nama-nama sebanyak mahluk-mahluk yang menyebutnya). Larut dalam Allah yang Maha Besar, Allah yang Maha Luas, Allah yang Tak Terbatas, Allah yang Bisa Ngapain Aja dan Bebas berkemauan apa aja. Bahagia, bahagia, bahagia selalu… there is Nothing, but God; there is only God. 4 sehat 5 sempurna. Ketuhanan yang Maha Esa.

PANCASILA! ITULAH JIHAD BANGSA INDONESIA. JIHAD KITA BERSAMA.

Terima Kasih Guruji, Guru Tari kita. Terima Kasih Bung Karno, Bapak Bangsa kita. Vande Mataram… Bersama Zat Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, let’s dance together!

 

One Response to “Jihad Kebangsaan Indonesia”

  1. Ananta Wijaya says:

    Da bikin tulisan berseri donk ttg kerajaan Nusantara…pasti banyak yg penegen tahu..apalagi generasi anak2 kita perlu banget kita ceritain ttg kejayaan masa lalu

Leave a Reply

Welcome, Visitor!

Please login below

forgot password?

Tentang Website

Website ini adalah representasi online Buku Angkatan (BukAng) Jilid 2 dari mantan mahasiswa ITB Jurusan Teknik Mesin & Teknik Penerbangan angkatan 1989. Lebih lanjut >

Subscribe for New Posts Notification


Info Rekening
Alumni Mesin 89

  • Buat Frens Mesin 89 yang bertanya nomor Rekening Mesin 89: Bank Danamon, 206.065.989 atas nama Rudy Arifin, Erwin Wijaya, dan Ali.
  • Tips: Bisa transfer lewat ATM bank yang terhubung di ATM Bersama dan ALTO.